[Foto, Video, Artwork] Sarasvati feat Karinding Attack, – “Perjalanan” @Lou Belle, “Layung Sarasvati Berkarat”, 26 November 2010

Risa Saraswati (Lead Vocal) Sarasvati, Diantra Irawan (Hollywood Nobody), Sheila (Mooner sekarang), Ay (Baby eat Crackers) pada Backing Vocal, Video Oleh Indraboxy
Song list Sarasvati
Tulus yang mengisi satu lagu Sarasvati
26 November 2010

Di acara inilah untuk pertama kalinya Sarasvati berkolaborasi dengan Karinding Attack, biarpun terus mendung dan hujan, acara yang berupa pameran beberapa artwork yang dibuat oleh Rega Ayunda Putri (Monik PopBags), juga suasana ruang tengah yang disulap oleh Evan Driyananda untuk sedikit mencekam ini berlangsung lancar, dan hujan turun sewaktu lead vocal Risa Saraswati turun panggung untuk istirahat Bedug Maghrib, hujan deras berlangsung sebentar, ketika naik untuk lagu terakhir, kebetulan sekali hujan berhenti, dan acara diteruskan dengan lagu terakhir, acara ini merupakan rangkaian promo dari mini album Sarasvati, pada bagian backing vocal terlihat diisi Diantra Irawan Lead Vocal Hollywood Nobody, Ay (Baby Eat Crackers), Dimas Ario (Ballads Of The Cliche) pada Bass juga Man Jasad di Karinding, mengiringi dan terus memapah suasana kelam, dengan awan yang terus berwarna abu-abu selama acara berlansung,

Sarasvati26 November 2010

Sarasvati tetap tampil maksimal sampai akhir acara. Tulus juga hadir saat itu mengisi satu lagu, event ini masih dalam rangkaian promo launching EP Sarasvati yang berjudul “Story Of Peter”, foto dan video ini adalah semua rekapan cerita gembira di tempat kami. Semua penonton yang datang hampir mencapai 400 orang (walk in + crew + panitia) sangat terhibur dan pulang dengan senyuman, panitia pun lega karena sepanjang acara terus deg-degan, karena cuaca mendung terus berlangsung.

Sarasvati Fighting Club, Video IndraBoxy
“Surya Tenggelam” Sarasvati tampil sanagat lengkap dengan alunan sinden dan penari,
Peter juga hadir saat itu, Video Indraboxy
Sheila (backing vocal) dan seorang Sinden yang mengisi lagu Sarasvati
Ruang Tengah disulap menjadi ruang pameran sekaligus ornamen berupa signature dari Sarasvati
Alat Musik Sunda yang dipakai pada acara
Risa Saraswati dan Egi Ex gitaris Pure Saturday
Pameran artwork Rega Ayunda Putri
(Art director Monik Popbags) X Sarasvati

Event ini di support full oleh Monik Popbags, Clothing yang juga mengeluarkan satu seri T’Shirt, dengan artwork hasil kolaborasi dengan Sarasvati, Baru saja admin menemukan video ini semalam, jujur baru ngeuh ternyata ada videonya, dibuat oleh Indraboxy. Mungkin karena suasana sedikit menakutkan, waktu itu banyak panitia yang tidak mau berjaga didalam, dua sampai tiga orang berada di tempat parkir dan sebrang jalan.

Artwork MONIK X SARASVATI Oleh Rega Ayunda Putri , teraplikasi dalam bentuk T’Shirt

Hatur Nuhun Rega, Teh Risa Saraswati dan Tim Sarasvati, dan manajemen atas kolaborasi dan kerjasamanya.

26 Nov, Jumat, Lou Belle Porch, Setia Budi, “Sarasvati Layung Berkarat”

Inilah konser yang paling ditunggu Karat selama ini : kolaborasi mereka dengan salah satu band atau musisi perempuan paling hebat masa ini : Risa Saraswati dan bandnya Sarasvati. Konser ini diberi tajuk “Layung Sarasvati Berkarat”, di ambil dari kala senja, di mana layung biasa turun dan mewarnai bumi serta pesonanya. Dan memang acara rencananya digelar dari jam empat sore sampai jam enam sore ketika layung bersiap datang, hadir sebentar sebelum kahirnya ditelan gelap yang misterius.

Karat dijadwalkan loading alat sejak jam sepuluh pagi, namun baru bisa dilakukan jam setengah dua belas siang, dan itupun harus tertunda karena hujan turun. Baru jam setengah empat alat-alat Karat bisa diloading dan difiks tata suaranya. Setelah fiks semua dan diseimbangkan dengan instrument elektrik konser akhirnya disiapkan akan dibagi menjadi dua sesi : dimulai jam setengah enam untuk tiga lagu pertama “Surya Tenggelam”, “Fighting Club”, dan “Perjalanan”’ serta sesi berikutnya  jam setengah tujuh untuk lima lagu selanjutnya : “Bilur”, “Question”, “Cut and Paste”, “Oh I Never Know”, dan akhirnya “Story of Peter”. Semua personil Karat, Ambu Ida Widawati, perwakilan dari para penari, dan perwakilan dari karat yang diwakili Kimung dan Jimbot berkumpul di ruang itu untuk berdoa bersama ayng dipimpin oleh manajer sarasvati, Syauqi Lukman. Berdoa dipersilahkan….

Dan prung lah mereka maen!!!

Satu demi satu personil Sarasvati dan Karat hadir di panggung. Sarasvati tampil semua dengan kostum hitam-hitam, pun Karat yang sama tampl hitam-hitam. Setelah menyapa penonton yang datang sore itu memenuhi venue—yang memang sangat kecil—dan memperkenalkan Karinding Attack kepada audiens yang hadir, Risa langsung memulai lagu pertama, “Surya Tenggelam”. Dibawakan dengan penuh penghayatan vokal yang khas Risa, membuat lagu ini menjadi Sarasvati banget. Suasana yang mendung sangat mendukung performa Sarasvati ketika membawakan lagu ini. Seketika para penonton terlarut dalam lagu hingga usai, aplus menyambut awal penampilan Sarasvati sore itu.

Dan kini penampilan Karat yang pertama : “Fighting Club”! Intro kibor “Fighting Club” yang megah beriringan dengan suara programming, renteng bass Mang Fery, renteng middle Kimung, dan indung Mang Hendra. Intro terus mengalun pelan namun pasti semakin kuat, semakin menunjukkan bentuknya, dan ketika drum mulai masuk, intro sudah menyeret perhatian audiens ke gerbang “Fighting Club”. Risa dan para vokal latar : Dian, Sella, dan Sherine segera masuk part vokal, “We are happy family…” Ada beberapa pola permainan karinding dan celempung dalam lagu ini yang masing-masing beda. Mang Fery masih terus bermain di ranah nada-nada low, Kimung di nada middle, sementara Hendra bermain goong menjembatani Kimung dan Mang Ferry. Karinding juga dimainkan freestyle namun Man, Jawis, dan Iwan memainkannya dalam satu laras pirigan yang sama yang membuat mereka terjaga dari impovisasi yang lebay dan berlebihan. Di belakang gong tiup Okid bersahutan dengan suling, saluang, serunai, dan toleat yang dimainkan Jimbot dan Yuki untuk mempertegas aksesn megah yang dibagun Sarasvati dan Karat. Pirigan celempung dan karinding berubah di pola vokal refrain di mana permainan nada yang melodis dan harmonis dimainkan dengan apik. Aplus kembali menutup lagu ini.

Habis “Fighting Club” semua mulai bersiap dengan lagu “Perjalanan”. Pola karinding yang diaransemen tetap dipertahankan dan semakin kuat melatari permainan musik dan vokal di Sarasvati. Celempung sendiri juga semakin tersusun karakternya : Kimung memilih celempung Cisolok untuk menimbulkan efek goong yang panjang, Mang Hendra yang memainkan goong sekilas-sekilas untuk membantu membangun nuansa lagu, pun dengan Mang Fery yang memainkan rentengnya dengan pukulan-pukulan sekilas untuk membangun nuansa melodis yang muram. Suara alat tiup, Yuki, Okid, dan Jimbot terdengar samar-samar bagaikan jauh. Aplus kembali membahana seusai lagu ini.

Sehabis “Perjalanan”, Sarasvati menaikkan tempo dengan musik ceria “Cut and Paste”. Karinding juga sudah menemukan bentuknya dengan bermain di sepanjang lagu untuk lagu ini dan menambahkan pirigan khusus di beragam bagian yang memang harus ditambahkan, sementara di sesi celempung, Kimung memilih memainkan Awi Bongkok untuk memberikan aksen suara etnik yang kuat bersahutan dengan renteng Mang Fery dan dijembatani goong Hendra. Di tengah lagu ketika Sarasvati mengaransemen musik yang berbeda dengan verse awal, Kimung memainkan renteng bersahut-sahutan dengan Mang Fery. Aplus kembali membahana menutup lagu yang memang sangat asyik ini, sekaligus menutup sesi pertama penampilan Sarasvati dan Karat sore itu, sementara adzan magrib mulai berkumandang.

Di tengah break, Kimung, Mang Man, Okid, dan Syauqi, manajer Sarasvati sempat berbincang mengenai acara ini dan keinginan Karat untuk kembali bermain bersama Sarasvati, namun dalam pengemasan acara yang lebih besar, di tempat yang lebih besar juga. Syauqi juga mengutarakan hal yang sama dan semoga Karat dan Sarasvati memang bisa kembali bermain di panggung bersama-sama.

Sehabis magrib, pertunjukan kembali dimulai. Audiens yang sempat meninggalkan venueuntuk melihat-lihat aneka busana yang dipajang di dalam distro Lou Belle kambali menyemut di venue untuk mneikmati sajian Sarasvati yang selanjutnya. Instrument dan tata suara juga kembali dinyalakan dan diset untuk lagu berikutnya. Karat dan para personil Sarasvati segera bersiap di tempatnya masing-masing ketika lagu “Bilur” mulai dipasang di audio panggung tanda pertunjukan segera dimulai.

Dan sesi ke dua mulailah. Para vokalis kembali tampil dan kini Risa membuka panggung dengan intro “Bilur”. Untuk lagu ini ia bahkan sudah mengundang secara khusus Ambu Ida Widawati yang mengisi vokal kacapi suling di tengah lagu “Bilur” untuk tampil bersama di panggung. “BIlur” dimainkan dengan baik. Kimung yang sempat bimbang apakah akan memakai celempung Cisolok, indung Giri Kerenceng, ataukah renteng kahirnya memilih menggunakan renteng untuk memberikan nuansa melodis yang lebih kaya bagi lagu ini. Untuk menjaga harmonisasi Mang Fery bertugas mengawal karinding dan celempung lain agar tetap bersatu dengan musik yang dimainkan Sarasvati. dan “Bilur” memang juara. Patut diacungi jempol bagaimana vokal Risa dan Ambu Ida saling dukung satu sama lain. Karakter vokal Risa yang muda tak lantas terlibas karakter vokal Ambu Ida yang memang kuat dan nyunda banget. Justru dua karakter ini saling mengisi, saling memperkuat, saling meningkahi aransemen yang digarap snagat apik. Karat juga lebih memilih bermian sekilas-sekilas, kecuali di beberapa bagian lagu yang memang harus diberi penekanan melalui variasi pirigan celempung dan karinding atau kekuatan pukulan celempung dan karinding. Aplus panjang mengiringi akhir dari “Bilur” yang mempesona ini.

Di lagu selanjutnya, Risa mendaulat Muhammad Tulus untuk tampil di panggung, tanda lagu “Oh I Never Know” akan dimainkan. Ini adalah lagu Sarasvati yang paling cerah, lagu di mana hati yang bertanya-tanya saling bicara dan itu direfleksikan dalam duet ini. Karat masih setia dengan pola yang sudah ditentukan, tak banyak perubahan yang berarti di lagu ini karena sejak awal lagu ini memang sudah begitu solid.

Question” dimainkan kemudian. Lagu ini memiliki permainan tempo yang jelas namun tak terasa dan sangat berhubungan dengan emosi yang membangun lagu ini. Dan sekali lagi Risa dan para vokal latar Sarasvati membuktikan bisa membawakan titi nada lagu ini dengan sangat baik. Karat juga tetap memainkan pola yang sudah ditentukan dengan tentu saja kini sudah semakin berpadu dengan lagu. Perubahan mungkin ada di permainan celempung Kimung yang memutuskan untuk bermain goong celempung indung di awal serta akhir lagu dan memainkan renteng di tengah lagu.

Dan akhirnya, “Story of Peter” kini dimainkan sebagai penutup pertunjukan malam itu. Sarasvati mendaulat Steven yang mengisi speech sebagai Peter van Jolch di lagu ini untuk mendampinginya di panggung, juga mendaulat Angkuy Bottle Smoker bermain glockenspiel untuk mengisi bebunyian di lagu ini. Suasana lagu yang ceria ditambah permainan Karat yang rancak karena memang lagu ini yang paling mudah dicerna oleh Karat membuat “Story of Peter” menjadi lagu yang pas menutup pertunjukan. Audiens memberikan aplus yang panjang dan akhirnya membubarkan diri.

Semua sangat bahagia malam itu. Sarasvati berhasil menluarkan semangat dan keindahan mereka kepada semua yang hadir, tak peduli bagaimana mendung menggayuti malam itu.

Dalam ramah tamah setelah akhir pertun jukan, Ambu Ida mengungkapkan kepada Kimung jika ia juga ingin dong diajak bubuhunan bersam Karat seraya bertanya di mana biasanya Karat berkumpul dan berlatih. Ambu Ida akhirnya memberikan nomor kontaknya ke Kimung dan Kimung berjanji untuk segera menghubungi Ambu Ida ketika lagu-lagu yang bisa diisi oleh Ambu Ida sudah siap.

Well, Sarasvati Layung Berkarat adalah salah satu pertunjukan terbaik Karat. Dengan didukung kawan dari luar Karat : Fery Giri Kerenceng dan Yuki Karinding Militan, pertunjukan ini juga didukung oleh tata suara yang sangat baik dan kru yang mantaps!! Untuk itu terima kasih kepada kru Karat : Zemo, Mang Tahu, Viki Rascall, Ghera, dan Kapten Jeks, serta tentu saja awal tata suara yang telah menyediakan instrument yang baik.

Ye guys rule!! (dikutip dari Jurnal Karat)

TULISAN DAN LIPUTAN

Tulisan Dea Salamatahari

Sarasvati Blog

Pencitraan

Ommunium

(LouBelle2020)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s